Latar Belakang
Wilayah
Sub Daerah Aliran Sungai (Sub DAS) Citarik Hulu merupakan bagian dari Daerah
Aliran Sungai (DAS) Citarum, secara administratif termasuk ke dalam wilayah
Kabupaten Bandung dan Kabupaten Sumedang. Schmidt-Ferguson mengklasifikasikan
daerah ini ke dalam tipe iklim C yaitu Agak Basah. Secara genesis bentuk lahan
di daerah Sub DAS Citarik Hulu adalah bentukan asal vulkanik dan bentukan
denudasional. Sub DAS Citarik memiliki nilai ekonomis dan ekologis yang luar
biasa, namun juga memiliki kerawanan paling tinggi di antara Sub Daerah Aliran
Sungai lainnya pada Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum.
Berdasarkan
peta pengginaan lahan sebagian besar Sub Daerah Aliran Sungai (Sub DAS) Citarik
Hulu merupakan daerah pertanian lahan kering, dengan penggunaan lahan lain di daerah ini meliputi hutan, kebun, sawah
irigasi, sawah tadah hujan, semak belukar, dan pemukiman. Sehingga, data
monografi daerah ini menunjukkan bahwa sebagian besar penduduknya bermata
pencaharian sebagai petani. Produk pertanian dianggap memiliki nilai ekonomi
tinggi sedangkan kepemilikan lahan petani relatif terbatas, sehingga memacu
para peteni untuk memperluas lahannya (ekstensifikasi pertanian). Namun upaya
ekstensifikasi pertanian di Sub DAS Citarik Hulu ini kurang memperhatikan
karakteristik dan kualitas lahan, sehingga kecenderunagannya mengarah kepada
degradasi lahan. Perluasan lahan pertanian sebagian besar merambah hutan sampai
mendekati puncak-puncak bukit dengan kemiringan lereng yang curam.
Ekosistem
Sub DAS Citarik Hulu telah mengalami degradasi lingkugan baik itu sumberdaya
lahan maupun sumber daya air. Hal ini disebabkan oleh karakteristik dan
kemampuan lahan , iklim, curah hujan
yang tinggi, jenis tanah, serta cara petani memperakukan lahan/tanah. Selain itu,
berdasarkan kemampuan lahan IV e, yang
memiliki faktor pembatas berupa ancaman erosi, kemiringan lereng, dan kepekaan
erosi. Untuk mengatasi terhadap hal seperti yang tadi telah disebutkan, perlu
diadakan upaya-upaya untuk pelestarian
sumberdaya lahan dan sumberdaya air melalui berbagai teknik konservasi lahan
yang tepat dengan melibatkan seluruh stakeholder. Selain itu, perlu adanya
kajian ekosistem DAS Citarum, terutama
pada Sub DAS Citarik Hulu tentang berbagai kondisi, karakteristik tingkat
kekritisan lahan, dan perilaku masyarakat yang ada di kawasan tersebut.
Teknis Degradasi Lahan
Sub Daerah Aliran Sungai Citarik Hulu
Air
limpasan terjadi di Sub Daerah Aliran Sungai (Sub DAS) Citarik Hulu sebesar
66,08% dengan volume airnya sebesar 93285052,81 m3, terutama pada
saat hujan. Karakteristik kemampuan lahan pertanian yang berada pada kemampuan
IV adalah lahan yang masih dapat dimanfaatkan sebagi lahan pertanian, tetapi
pemanfaatannya memerlukan pengelolaan yang hati-hati karena alternatif
pemanfaatannya lebih terbatas berupa ketersediaan unsur hara dan bahaya erosi.
Lahan yang berada di Sub DAS Citarik Hulu termasuk digolongkan lahan kritis,
terutama kelas IVe, yang
mempunyai pembatas berupa ancaman erosi yang disebabkan oleh kemiringan lereng
dan kepekaan erosi tanah, serta mempunyai hambatan karena keberadaan batuan di
permukaan. Sehingga perlu adanya perlakuan khusus dengan teknik konservasi
seperti adanya terasering, pergiliran tanaman, dan lain sebagainya.
Lahan
pertanian di Sub DAS Citarik Hulu berada pada kelas kemampuan IV dengan faktor
pembatas erosi, sehingga apabila dimanfaatkan untuk lahan pertanian perlu beberapa
perbaikan melalui beberapa tindakan konservasi (pengawetan) tanah. Pengawetan
tanah disini mencangkup upaya mengusahakan tanah sebaik-baiknya, pemanfaatan
tanah yang tepat, melindungi tanah terhadap bahaya erosi, mengawetkan
persediaan air serta memperbaiki dan memelihara kesuburan tanah. Sebagian besar
petani yang ada di Sub DAS Citarik Hulu mengenyam pendidikan hingga tingkat SD.
Mereka lebih senang tinggal di kawasan ini walaupun luas lahan < 0,25 Ha.
Sebagian besar penduduk (petani) enggan melakukan migrasi karena adanya ikatan
keluarga yang begitu kuat. Hanya sebagian kecil saja yang melakukan migrasi,
terutama mereka yang tidak memiliki pekerjaan/ menganggur.
Bentuk CPRs (Common
Pool Resources) yang Saya Riview adalah
Sub
Daerah Aliran Sungai Citarik Hulu maupun Daerah Aliran Sungai Citarum merupakan
salah satu contoh CPRs (Common Pool Resources) atau yang dikenal dengan “Sumber
Daya Milik Bersama”. Saya mengatakan demikian karena sumber daya ini bersifat
Tidak Excludable, secara gratis bagi siapa saja yang ingin memanfaatkannya,
serta Pembuat Kebijakan perlu mempertimbangkan seberapa banyak Sumber Daya
Daerah Aliran Sungai Citarum dimanfaatkan.
Potensi / Kemampuan
CPRs yang Saya Riview adalah
DAS
Citarum merupakan DAS yang memiliki nilai ekonomis dan ekologis yang luar
biasa. Dari segi ekonomi, DAS Citarum merupakan urat nadi bagi kehidupan Kota
Bandung dan daerah sekitarnya seperti Purwakarta, Karawang, dan Jakarta sebagai
sumber air minum, sumber air bagi industri, irigasi pertanian, perikanan,
disamping penghasil Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) baik Saguling, Cirata,
dan Jatiluhur dalam mendukung sistem jaringan listrik Jawa-Bali. Namun secara
ekologis, DAS Citarum mengalami perusakan yang sangat serius seperti terjadinya
defisit neraca air, sehingga mengakibatkan banjir dan kekeringan, meluasnya
lahan kritis di daerah hulu, serta tingginya bahan-bahan polutan dari limbah
industri, pertanian dan rumah tangga.
Sub
DAS Citarik yang merupakan salah satu Sub DAS dari DAS Citarum, memiliki
kerawanan paling tinggi di antara Sub DAS- Sub DAS lainnya pada DAS Citarum.
Sebagaimana dilansir Harian Pikiran Rakyat pada tanggal 5, 8 dan 10 Maret 2006,
adanya kontroversi tentang tingkat kegagalan pengelolaan DAS yang ada di daerah
ini.
Permasalahan yang
dibahas pada jurnal yang saya riview terkait dengan Common Pool Resources (CPRs)
Permasalahan
yang dibahas pada jurnal yang saya riview ialah Wilayah Sub DAS Citarik Hulu
telah dan sedang mengalami Degradasi Lingkungan (Penurunan Kondisi Lingkungan),
terutama sumber daya lahan dan air. DAS Citarum secara ekologis pun, mengalami
perusakan yang sangat serius seperti terjadinya defisit neraca air, sehingga
mengakibatkan banjir dan kekeringan, meluasnya lahan kritis di daerah hulu,
serta tingginya bahan-bahan polutan dari limbah industri, pertanian dan rumah
tangga. Apabila tidak dilakukan praktek-praktek konservasi, maka akan menambah
laju secara intensif sehingga terjadi penipisan lahan dan akhirnya tanah
menjadi kurang produktif bahkan tidak produktif yang memicu terjadinya lahan
kritis.
Penyebab terjadi
Permasalahan Common Pool Resources (CPRs) pada jurnal yang saya riview
Faktor
yang memicu penurunan kondisi lingkungan tersebut di antaranya adalah cara
petani memperlakukan dan memperhatikan lahan/tanah, karakteristik fisik, curah
hujan yang tinggi serta ekstensifikasi lahan pertanian pada lahan kawasan lindung.
Belum terlaksananya praktek-praktek konservasi dapat menjadi penyebab pemicu
terjadinya lahan kritis.
Tragedy of The Commons
dalam jurnal yang saya riview
Dalam
jurnal yang saya riview terjadi Tragedy of The Commons. Upaya para petani
memperluas pertanian (ekstensifikasi pertanian), dengan kurang memperhatikan
karakteristik, kualitas, dan potensi lahan, Saya klasifikasikan masuk dalam
Tragedy of The Commons karena Para petani yang berupaya mengekstensifikasi
lahan pertanian hanya memikirkan kepentingan individu, dengan mengacuhkan
kepentingan umum yaitu lahan pertanian yang diekstensifikasi pada lahan kawasan
lindung.
Free Rider pada jurnal
yang saya riview
Seluruh
Penduduk Pulau Jawa-Bali kecuali Kecamatan Cimanggung dan Kecamatan Cicalengka terutama
Desa Dampit, Desa Tanjungwangi, Desa Cimanggung, Desa Sindulang, dan Desa Tegal
Manggung merupakan Free Rider pada Jurnal yang saya riview karena DAS Citarum
merupakan pendukung Sistem Jaringan ListrikJawa-Bali. Adapun saya tidak
memasukkan 2 kecamatan tadi utamanya 5 Desa diatas, karena daerah tadi telah
mengkonstribusikan lahan di daerahnya untuk keberlangsungannya Daerah Aliran
Sungai yang baik.
Solusi yang ditawarkan
jurnal tersebut terhadap permasalahan CPRs
Bagi
Pemerintah melalui Departemen Kehutanan, Departemen Pertanian, Dinas dan
Lembaga Terkait agar dalam melakukan paket program , proyek pengelolaan DAS lebih memperhatikan
data (infiltrasi) tingkat dan sebaran kekritisan lahan, sehingga kegiatannya
lebih fokus dan tepat sasaran terutama pada lahan yang telah memasuki fase semi
kritis sehingga tidak terjadi degradasi lingkungan yang lebih parah. Pemerintah
harus bisa mengimbangi respon petani yang cukup baik dalam kegiatan konservasi
dan rehabilitasi lahan dengan kegiatan
penyuluhan dan pembinaan yang lebih intensif, sehingga memunculkan perilaku
petani yang konservatif yang muaranya akan menguntungkan semua pihak. Perlunya
diadakan kajian ekosstem DAS Citarum, terutama Sub DAS Citarik Hulu tentang
berbagai kondisi, karakteristik tingkat kekritisan lahan, dan perilaku
masyarakat yang ada di kawasan tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar